Jumat, 16 Maret 2012

Pada Lorong-lorong tol kutemukan keadilan

Seperti malam …………
Ia renangi air matanya dalam duka
Sampai tak mengerti apa-apa
Kadang pula ia terkurung pada rindu
Sementara pagi masih ada esok
Ke mana langkahnya terteduh


Rindunya tertindas pada becek
Riangnya terhambat pada beberapa masa hina
Siapa yang salah,……….
Sementara hidup adalah apologi penindas
Aral dan jenaka menyatu dalam kalbu
Hingga ia hanya mampu duduk dan diam

Nyaris betisnya lelah dan tak mampu terangkat
Namun, tak jua ia dapatkan nilai sebuah idelogi

Di sana, di tempat gelap itu, tubuh kaku tak berdaya menghadap kiblat badannya kurus kering tak bernyawa
Di situ, di tempat itu gadis kecil yang seharusnya memakai putih merah menangis di lorong-lorong tol, sambil memegang kerincing.

Maros, 20 Desember 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar