Senin, 30 Juli 2012

“KHAILA…”



“Khaila….cukup kau menggorogoti benakku dengan senyummu yang manis…..senyum yang memberiku kebahagian sejenak di alam mimpi….”
“Bang….senyumku….adalah kekuatan atas segala rasa yang pernah ku patrikan kepadamu walau sejenak kita bersama, walau sejuta mimpi yang tak dapat terpenuhi tapi itu membuatku berada di surga…”
Kutipan message dari kaila yang membuatku menyerah dengan perdaban globalisasi…Khaila yang telah membangun pondasi di sudut batin-batin yang merindu…di sudut batin yang gusar tentang lentik mata dan mendamparnya di lorong-lorong kegalauan pas depan kamar di wisma itu.
Ia telah berenang dengan kalbu dan melukiskan pelangi di sela-sela kebisingan penat yang terpaku dalam sepi…dan kini menjadi butiran-butiran kristal yang mengalir dari awan pekat di kaca jendela bus menuju salah satu kota Sulawesi Barat.
Kursi bernomor 23 dekat jendela, Aku terpaku menatap senyum dibibir mungilnya dan nanar yang memancarkan cahaya dibrokaku sebab itulah kenangan. Sebuah memory yang mesti tertepis dengan sejuta risalah dan catatan sejarah digedung putih berlantai 5.
Di hadapan pelangi zaman-zaman silam memaksaku untuk merenungi beberapa catatan-catatan jurnal dari risalah indah yang pernah tercatat….Khaila….kau gadis kecil yang lugu telah mencatatkan kisah indah di kalbu….kau gadis kecil bernanar lentik…menulis dengan kanvas di atas pelangi pas ketika embun menyapa dengan irama suara muadzin berkumandang…
Di kamar ini….setelah salat subuh dengan tadarrus, ku buka kembali laptop dan Aku menulis tentang perjalanan sakral tentang pertemuan dua hati….

Khaila…si gadis kecil
Kau telah membuatku membayangkan sesuatu pada taman impian…taman mimpi yang ditaburi dengan kembang-kembang mekar dengan senyummu dan aroma farfum…. Aku tahu Khaila…kau telah membuatku jatuh hati kepadamu hingga odong-odong telah menjadi saksi kita berdua..dan duduk pas paling belakang…
Catatan ini akan menjadi saksi kerinduan kelak ketika kita tak bersua sebab jarak telah menyekatnya dan tak mungkin kita bersama.
Januari 2010
Di kamar 320

“Bang…..sarapan yuuk….” Tandas Salim
“Ya….Aku off-kan dulu laptopku…”
Usai menulis beberapa kata yang kuuntai menjadi bait… Aku dan Salim menyusuri lift dan menuju lobby, dengan kekuatan senyum dari gadis kecil yang kunamia Khaila, dan berharap bersua pada saat di lobby walau hanya melempar senyum dan lirikan mata.
“Pagi…Bang…” sahut Khaila dengan busana abu-abu….dan sepatu hak tinggi yang ia beli semalam, seakan mengatakan Bang terima kasih telah menemaniku membeli sepatu semalam.
“Pagi…gadis kecil….”
“Aku bukan gadis kecil lagi…”
Wajah Khaila cemberut seakan memaksaku untuk mengatakan ia telah menjadi perempuan dewasa, perempuan yang telah mengenal nama cinta dihatinya…
“Iya…iya…kamu bukan anak kecil lagi...yang membawa boneka Barbie…dan memeluknya pada saat ketika kau akan tertidur….”sahutku dengan senyum.
Khaila berlalu tanpa kata…amarahnya mulai menanjak seakan Aku mengejek dengan sengaja….yah…tanpa kata penutup atau basa-basi agar Aku duduk didekatnya bersama untuk menikmati sarapan pagi sebelum ujian dimulai….
“Bisa…duduk di sini…” kataku kepada penghuni meja 3…”
Khaila, Mirna, dan Salma….tak menjawab apa-apa…mereka hanya saling menatap setelah itu kembali menikmati sarapan pagi…
“Bisa duduk di sini…” kuulangi kalimat itu lagi….agar tak ada yang keberatan….
“Bang…kalau mau duduk, duduk saja….kenapa mesti minta isin…kursi itukan kosong tak ada penghuninya…silahkan saja…” Sambut Kaila dengan wajah memerah…
Kuletakkan piring dan duduk semeja dengan mereka…suasana hening di meja itu, yang ada hanya suara sendok dan piring saling berperang, Salma berdiri mengambil segelas air, dan duduk kembali..masih sepi ternyata.
“Ehm….bagaimana persiapan ujian sebentar…? Kucoba untuk mencairkan suasana, mungkin dengan cara itu membuat mereka berkata walau satu huruf saja..
“Yah…sudah dong..kami sudah siap dengan ujian sebentar….”
 Ternyata dugaanku benar, mereka akhirnya bersuara juga, rupanya pertanyaan ini memiliki kharismatik tersendiri untuk membuat bibir mereka mengeluarkan huruf-huruf dari alat artikulasi mereka..
Usai sarapan…seperti kebiasaan Aku dipagi hari, kuteguk kopi sambil menikmati sebatang kretek dan lamunan tentang materi, tentang perpisahan, tentang banyak hal yang telah menjadi warna-warni di hotel Darma Nusantara ini. Warna-warni pelangi yang tak terasa bahwa sebentar pas jam 15.00 kawan-kawan satu persatu akan berkemas dan kembali ke dunia nyata. Yah…dunia nyata kata Salma.. Aku kembali memusatkan konsentrasi dengan pikiran ke materi yang telah berbaur selama ini dalam benakku semoga tak seperti air yang mengalir ke dalam sungai, atau seperti ombak yang telah terhempas di pantai, harapku seperti air dalam cawan yang memberikan bekas walau setetes ketika tertumpah.
Tepat pukul 07.20, sebentar lagi masuk kelas, Aku bergegas naik lift dengan segala perlengkapan, pemikiran itu kembali menghantuiku, tentang Khaila…si gadis kecil dengan mata lentik dan senyumnya.
“Khaila…esok kita tak bersama, esok kita dalam dunia nyata, esok semuanya telah menjadi kenangan, dan kita telah berpisah” lirihku dalam hati..
Sampai di kelas, Aku duduk di bagian depan, Khaila duduk di bagian tengah….walau tadi ketika Aku berjalan di samping dia sempat melirikku dengan senyum..yang seakan menyuntikkan spirit untuk mengikuti ujian ini, tapi pikiranku telah tergauli dengan energy elegy episode yang endingnya tak nikmat.
“Baik..para peserta diklat, waktu Anda menjawab hanya 60 menit dengan butir soal 40, kalian manfaatkan baik-baik, karena ini adalah evaluasi Anda tahap akhir, apakah Anda layak dikatakan ada peningkatan atau tidak” sahut Widyasuara
Semua peserta telah menjawab, waktu terus berlalu hingga soal yang terjawab siswa 10 menit, konsentrasiku buyar dengan sebuah pertanyaan yang ada dalam benakku, sebuah pertanyaan yang sejak kemarin-kemarin telah menyayat nuraniku, sebuah bisikan wacana yang terdengar dalam diriku sendiri, perpisahan..yah perpisahan.. yang begitu berat. Tapi kucoba untuk kembali pada kontemplasi untuk menjawab sisa butir soal tersebut tanpa mau digerogoti lagi.
60 menit telah berlalu, satu persatu peserta mengumpulkan lembar jawaban, dan berlalu ke kamar untuk packing-packing, kuayungkan kaki dengan berat menuju kamar, aktifitas semua peserta sama, packing-packing, ada dua kabar yang terdengar, kabar pertama adalah kebahagian karena sebentar lagi berkumpul dengan keluarga, kabar kedua adalah kabar tentang perpisahan, tapi inilah konsekuensi logis yang mesti diterima, ada awal pasti ada akhir, ada pertemuan pasti ada perpisahan tak ada yang abadi.
Kembali ku buka laptop dan mencatat kegelisahanku….
Seiring waktu yang bergulir, seiring waktu yang beranjak meninggalkan masa-masa bahagia, sebentar lagi Khaila…sebentar lagi Khaila kita tak bersua, kuharap kau baik-baik saja, kuharap semua bayangku dan bayangku segera pulih dari ketidaksadaran kita, sebab esok kita berada di dunia nyata.
Januari 2010
Di kamar 320
“Bang….barang-barang uda dikemas, sebentar lagi kita berpisah..kuharap kita dapat berkomunikasi..” sahut Salim rekan sekamarku
“Iya…dinda….harapku juga seperi itu..”
Suara dering message  berkecamuk pada Handphoneku,
“Bang…berat rasanya perpisahan ini, Aku tak sanggup untuk kembali ke dunia nyata sebab dunia mimpi ini membuatku bahagia…Aku tak akan melupakanmu Bang… dariku Khaila..”
Sebuah pesan yang membuatku terpaku duduk dihadapan cermin, sambil mengenang masa-masa yang bahagia itu dan mengajakku berkelana dengannya, tapi cepat Aku sadar sebab sebentar lagi upacara penutupan akan dimulai dan peserta akan berlalu dari Wisma ini..
Kaila…..Aku menitip rinduku di wisma ini, Aku tak berani membawanya pulang dan tak berani membawanya di dunia nyata sebab kau dan Aku tak akan menjadi kita, kau akan menjadi kau dan Aku menjadi Aku.
Cahaya senja menampar wajahku menandakan bahwa sebentar lagi rembulan akan nampak, segera Aku tersadar dari perjalanan zaman-zaman yang asyik dalam dunia mimpi dan Aku tersadar bahwa Aku telah berada didunia nyata.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar