Tampilkan postingan dengan label Karya Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2012

Proposal Penelitian: Apresiasi Cerpen


KEMAMPUAN MENGAPRESIASI CERPEN DI UFUK BARAT SANA KARYA INDRA ANWAR PADA SISWA KELAS IX MTS. DARUSSALAM BARANDASI KABUPATEN MAROS

PENDAHULUAN
Pelajaran sastra adalah bagian dari pelajaran Bahasa Indonesisa tingkat menengah selain dari keterampilan menyimak, mendengarkan, menulis dan berbicara sehingga menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Karya sastra menjadi obyek publik untuk dikomsumsi pada saat waktu senggang dan dapat dinikmati dalam keadaan di mana saja dan siapa saja.  Sastra merupakan ciptaan manusia yang memiliki ciri yang khas karena penyair berhak ingin menjadi apa saja dalam karyanya. Sastra merupakan kegiatan kreatif yang dihasilkan oleh seorang seniman dalam bentuk karya sastra yang fundamental, baik itu dalam bentuk prosa, drama dan puisi sehingga penikmat atau pengapresiasi mampu membedakan jenis dan karekteristrik karya itu sendiri.

Senin, 19 Maret 2012

Metode Simulasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pada proses pembelajaran di sekolah diberikan sepenuhnya oleh pihak sekolah sebagai otonomi sekolah. Setiap pendidik diberi amanah untuk mencari formulasi baru dalam meningkatkan hasil belajar siswa karena tidak dapat dipungkiri bahwa hasil belajar siswa akan menjadi rendah jika metode, strategi dan model yang digunakan oleh seorang pendidik masih konvensional.
Metode pembelajaran sangat bervariatif, sebagai pendidik kita dapat memilih metode yang mana akan dipilih sesuai dengan tujuan pemberlajaran dan standar kompetensi yang akan diajarkan, salah satu metode yang baik digunakan adalah metode simulasi, metode ini sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman siswa pada proses pembelajaran khsususnya pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi membacakan teks berita. berikut akan dipaparkan tentang metode simulasi.
A. Pengertian simulasi
Simulasi dalam KBBI artinya metode pelatihan yg meragakan sesuatu dl bentuk tiruan yg mirip dng keadaan yg sesungguhnya; 2 penggambaran suatu sistem atau proses dng peragaan berupa model statistik atau pemeranan.

Senin, 05 Maret 2012

Kreatifitas dalam pembelajaran puisi


1.    Pengertian kreatif
Menurut Rokcy, Kata “Kreatif” merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris. To Create, yang merupakan singkatan dari :
Combine (menggabungkan) – penggabungan suatu hal dengan hal lain
Reverse (membalik) – Membalikan beberapa bagian atau proses
Eliminate (menghilangkan) – menghilangkan beberapa bagian
Alternatif (kemungkinan) – Menggunakan cara, bahan dll dengan yang lain.
Twist (memutar) – memutarkan sesuatu dengan ikatan
Elaborate (memerinci) – memerinci atau menambah sesuatu
Kreativitas dinilai sebagai salah satu faktor penting yang dapat menunjang masa depan siswa. Siswa yang kreatif diharapkan mampu menciptakan ide-ide baru, memiliki daya imajinasi yang baik serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang intelegen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif (Solahuddin, 2006).
Bakat kreatif sesungguhnya dimiliki setiap anak, tetapi perkembangannya sangat bergantung pada lingkungan dimana anak berada. Kreativitas dapat dibina, ditumbuhkan, dan ditemukan kembali melalui praktik pendidikan. Semua mata pelajaran seharusnya menumbuhkan daya kreativitas. Namun, dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Sekolah yang diharapkan mampu memberi suasana pendidikan untuk mengembangkan bakat kreativitas anak, pada kenyataannya terjebak pada pengoptimalan salah satu aspek saja, sehingga kreativitas pada anak sekolah kurang dikembangkan dalam dunia pendidikan (Mulandari, 2004).
Nilai kreatif yaitu Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.(Kemenetrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikukulum)
Menurut KBBI, Kratif artinya memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan;  bersifat (mengandung) daya cipta
Kratifitas dalam pembelajaran sangat dituntut, bukan hanya dalam pembelajaran sastra atau pembelajaran Seni akan tetapi semua mata pelajaran. Pendidik dituntut kreatif dalam mengaplikasikan proses pembelajaran sehingga pelaksanaan tujuannya betul-betul tercapai.

2.    Kreatifitas dalam pembelajaran menulis puisi
Dalam pembelajaran menulis puisi pada sekolah tingkat lanjutan baik tingkat SMP/MTs dan SMA/MA/SMK, seorang pesertad didik mesti kratif dalam menulis karyanya, ide yang kreatif dalam penulisan sangat menentukan penyelesaian puisi yang ditulis tersebut.
Pemilihan tema dan pemiliahan setting dalam menulis juga sangat berperan dalam menulis karya, tempat dalam menulis puisi, atau biasa disebut dengan lingkungan belajar seorang peserta didik, menentukan penulisan yang baik pada karya.
Lingkungan out door sangat tepat untuk menulis puisi, atau penggunaan lingkungan sekolah dapat dijadikan sebagai media untuk menulis puisi, tinimbang siswa diajak berhayal ke suatu tempat dan mereka menulis hasil dari hayalannya.
Peserta didik dan pendidik dituntut untuk menjadikan proses pembelajaran yang kratif sehingga pembelajaran sesuai dengan tujuan dan hasilnya dapat memuasakan serta dapat diapresiasi dengan baik.
Dalam hal yang lain selain tema, maka diksi, bahasa figurative, menentukan kelayakan puisi, puisi berbeda dengan jenis karya lainnya karena puisi bersifat padat dan penikmatnya memiliki cara pandang yang berbeda dalam artian puisi itu bersifat multiinterpretable.wallahualam


Sumber bacaan:
Tim Penyusun KBBI, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Hamid Hasan, Said, 2010. Baham Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajraan Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa  Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan pengembangan Pusat Kurikulum 

http://etd.sprits.ums.ac.id

Jumat, 24 Februari 2012

Karakter Tanggung Jawab dalam pembelajaran

Pendidikan karakter dalam pembelajaran saat ini didengung-dengungkan oleh para aktivis pendidikan, karakter ini diintegrasikan dalam mata pelajaran manapun, pengintegrasian karakter ini masih dalam perdebatan ada yang mengatakan karakter disimpan pada tujuan pembelajaran, adapula mengatakan pada kegiatan pembelajaran ada pula yang menyatakan simpan pada penilaian dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, tetapi kalau menurut logika maka seyogyanya karakter ini ditempatkan pada kegiatan pembelajaran karena pada saat itu juga terjadi proses pembelajaran. Karakter dalam pendidikan pada Rencana pelaksanaan pengajaran ditempatkan pada kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir serta pada penilaian proses pembelajaran untuk mengukur apakah karakter ini terealisasi pada proses pembelajaran atau tidak.  
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:682) Karakter adalah tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yg membedakan seseorang dng yg lain; watak, sedangkan  Said Hamid Hasan, dkk (2010: 3) pengertian Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain.
Pada proses pembelajaran sudah menjadi keharusan bagi seorang pendidik memberikan tugas rumah kepada peserta didik sehingga pada saat dirumah peserta didik kembali membuka pelajaran yang pernah mereka pelajari. Akan tetapi, realitasnya pekerjaan rumah ini terkadang menjadi pekerjaan sekolah dalam artian peserta didik kadang mengerjakan tugasnya disekolah bersama teman-temannya, kadang pula mereka tidak mengerjakan dengan alasan lupa. Hal ini lah yang menjadi persoalan yang didapatkan oleh seorang pendidik dan dianggap karakter tanggung jawab seorang peserta didik terhadap tugas yang diberikan kurang.
  
Karakter tanggung jawab pada pemberian tugas
Peserta didik menganggap bahwa mereka tidak mengerjakan tugas rumah yang diberikan karena beberapa hal yaitu:
1.    Membantu orang tua dalam mengerjakan tugas-tugas rutin, seperti membajak sawah, mencuci piring, berkebun dll
2.    Peserta didik kadang lupa mengerjakan tugas yang diberikan oleh orang tuanya karena kecapaian pada pasca membantu orang tua
3.    Peserta didik menganggap bahwa di sekolah lebih enjoi mengerjakan karena mereka berinteraksi dengan temannya
4.    Lupa
5.    Alasan yang klasik juga diberikan oleh seorang peserta didik yaitu alasan malas membuka kembali pelajaran
Argumentasi siswa di atas menjadi catatan khusus oleh seorang pendidik untuk dikaji sehingga seorang siswa bertanggung jawan terhadap tugas yang diberikan oleh seorang pendidik.

Karakter Tanggung Jawab
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb), Said Hamid Hasan, dkk (2010: 10) menyatakan bahwa deskripsi tanggung jawab adalah Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Indikator Sekolah dalam karakter tanggung jawab
1.    Membuat laporan setiap kegiatan yang dilakukan dalam bentuk lisan maupun tertulis.
2.    Melakukan tugas tanpa disuruh.
3.    Menunjukkan prakarsa untuk mengatasi masalah dalam lingkup terdekat.
4.    Menghindarkan kecurangan dalam pelaksanaan tugas.

Indikator Kelas dalam karakter tanggung jawab
1.    Pelaksanaan tugas piket secara teratur.
2.    Peran serta aktif dalam kegiatan sekolah.
3.    Mengajukan usul pemecahan masalah

Solusi impelemntasi karakter tanggung jawab pada pemberian tugas :
Kesadaran seorang peserta didik harus digugah bahwa mereka mesti bertanggung jawab dalam setiap hal termasuk ketika diberikan tugas rumah, maka mereka harus mengerjakannya tanpa alasan apapun.
Salah satu yang mesti dilakukan oleh seorang pendidik dalam menghadapi kasus ini adalah strategi dan metode yang mesti dirubah. Pemberian reward kepada peserta didik yang mengerjakan dan memberikan punishment kepada peserta didik yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah, serta pemberian nilai yang dibedakan antara yang mengerjakan dirumah dan yang tidak mengerjakan dirumah sehingga peserta didik merasa bertanggung jawab dalam pekmberian tugas rumah tersebut dan agar peserta didik yang mengerjakan merasakan keadilan.Huallahualam

Sumber bacaan:
Tim Penyusun KBBI, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Hamid Hasan, Said, 2010. Baham Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajraan Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa  Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan pengembangan Pusat Kurikulum 

Sabtu, 11 Februari 2012

Pembentukan Karakter Disiplin Dalam Pembelajaran

A. Pendahuluan
Proses pembelajaran bukan hanya berada pada lingkungan formal, tentu kita sepakat hal tersebut. dan bukan hanya pada ruang kelas sehingga banyak ruang dan waktu  dapat dimanfaatkan dalam belajar.  Salah satu cara atau strategi seorang guru agar peserta didiknya tetap belajar di rumah pada saat pulang sekolah yaitu pemberian tugas. Pemberian tugas di rumah menjadi suatu beban yang dirasakan oleh seorang peserta didik disamping kesibukannya bermain, tetapi tidak semua peserta didik seperti itu tentunya, bahkan ada juga peserta didik yang merasa bahwa pekerjaan rumah atau tugas kelompok sangat dibutuhkan oleh mereka. paling tidak bisa keluar dari beban rumah yang mungkin menurutnya adalah beban rumah tangga yang belum seharusnya dikerjakan oleh seorang anak kecil yang masih sekolah. padahal sudah jelas bahwa pekerjaan tersebut adalah proses belajar juga.

Pekerjaan rumah adalah pemberian tugas yang sampai detik ini kami rasa adalah suatu pemberosan, karena terkadang peserta didik mengerjakannya di sekolah. Entah apakah rutinitas di rumah mereka yang kerap mengganggunya ataukah waktu lowongnya dia tukar dengan bermain. tapi itulah kenyataanya. mereka cenderung mengerjakan disekolah atau paling tidak mereka dapat melihat pekerjaan temannya yang telah selesai.

Hal inilah yang mendasari bahwa karakter displin dan tanggung jawab mesti terbentuk. Pendekatan yang dapat ditawarkan adalah pendekatan secara psikologi tentang displin sebagai wujud karakter, peserta didik diajak untuk menjadi warga pembelajar yang cinta akan pelajaran dan sebagai pendidik maka model pembelajaran mesti dianalisis untuk dijadikan sebagai kerangka acuan dalam pemberian pembelajaran.
Dari uraian diatas maka yang menjadi titik sentral permasalahan yang akan dibahas yaitu Bagaimana kedipslinan siswa dalam menjalankan tugas?

B. Pengertian Displin

Kadir(aadesanjaya) menyatakan bahwa.Disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan atau pengendalian. Kedua disiplin yang bertujuan mengembangkan watak agar dapat mengendalikan diri, agar berprilaku tertib dan efisien”  Sedangkan disiplin menurut Djamarah adalah "Suatu tata tertib yang dapat mengatur tatanan kehidupan pridadi dan kelompok”Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru Kedisiplinan mempunyai peranan penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Berkualitas atau tidaknya belajar siswa sangat dipengaruhi oleh paktor yang paling pokok yaitu kedispilan, disamping paktor lingkungan, baik keluarga, sekolah, kedisiplinan setra bakat siswa itu sendiri.

Maman (Harning: 2005: 18) Disiplin sebagai upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam hatinya.

C.Pemberian tugas 

Untuk mewujudkan apa yang diharapkan oleh kurikulum dimana salah satunya adalah menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran yaitu dengan memberikan tugas kepada peserta didik. pemberian tugas merupakan hal yang urgen kepada peserta didik karena dapat mengukur, menilai dan mengevaluasi peserta didik apakah ada peningkatan hasil belajarnya.

D. Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Menurut  Said dkk (2010: 4) Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter dirinya, menerapkna nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang relgius, nasionalis, produktif dan kreatif.
   
Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
  1. Religius : Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran  terhadappelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun denganpemeluk agama lain.
  2. Jujur : Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  3. Toleransi :  Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
  4. Disiplin :  Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  5. Kerja Keras :  Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
  6. Kreatif : Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
  7. Mandiri :  Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
  8. Demokratis : Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
  9. Rasa :  Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
  10.  Semangat Kebangsaan : Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas  kepentingan diri dan kelompoknya.
  11. Cinta Tanah Air :  Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
  12. Menghargai Prestasi :  Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk  menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
  13. Bersahabat/ Komuniktif : Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
  14. Cinta Damai : Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
  15. Gemar Membaca : Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
  16. Peduli Lingkungan : Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
  17. Peduli Sosial : Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
  18. Tanggung-jawab : Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
E.  Displin dalam Mengerjakan Tugas

Salah satu nilai karakter yang dintegrasikan ke dalam kurikulum atau pada proses pembelajaran yaitu displin, tingkat kedisplinan dalam pemberian tugas kepada siswa menjadi perhatian khusus, ini dkarenakan bahwa seorang anak terkadang malas mengerjakan tugasnya di rumah, kondisi ini disebabkan antara lain, (1) siswa dibebankan pada pekerjaan rumah, (2) siswa terbiasa mengerjakan  tugas di sekolah, (3) siswa kebanyakan bermain sehingga lupa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, (4) sehabis bermain dan mengerjakan rumah yang diberikan oleh orang tuannya maka mereka kecapean hingga tidak mengerjakan tugas, (5) adapula siswa yang menyatakan malas, hal ini dinilai kekurangan siswa dalam displin mengerjakan tugas latihan yang dikerjakan di rumah, atau PR. Sebagai seorang pendidik langkah-langkah taktis yang ditempuh untuk membuat siswa dispiln dalam mengerjakan tugas yaitu (1) pendekatan pskiologis kepada siswa, (2) pendekatan nilai dalam artian ketika siswa mengerjakan pekerjaan rumahnya dan dikumpul dengan tepat waktu maka nilai yang diberikan berbeda dengan nilai siswa yang mengumpulkan tugasnya lewat pada batas pengumpulan.
Pemberian tugas melatih peserta didik untuk displin dalam melaksanakan kewajibanya sebagai pembelajar sehigga terbentuk karakter seorang individu dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang peserta didik.

Daftar Pustaka

aadesanjaya.blogspot.com  kedisplinan belajar siswa dikutip on line pada tanggal 10 Nopember 2011

Susilowati,  Harning Setyo. 2005. Pengaruh displin belajar, lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah terhadap prestasi belajar siswa kelas X semester 1 Tahun ajaran 2004/2005 SMA N 1 Gemolong Kabupaten Sragen

Hamid Hasan, Said, 2010. Baham Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajraan Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa  Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan pengembangan Pusat Kurikulum 

Implementasi Lesson Study pada mata pelajaran Bahasa Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

            A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan mengembangkan watak bentuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Madrasah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional melaksanakan tujuan di atas dengan kekhususan dalam pelaksanaannya, salah satu kegiatan pendidikan / pembelajaran yang digunakan adalah pelaksanaan Lesson Study yang mana merupakan model pembinaan guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun Learning community. Lesson Study bukan merupakan suatu metode pembelajaran atau suatu strategi pembelajaran, namun di sini kita memilih dan menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi oleh guru yang bertujuan meningkatkan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran yang pada prinsipnya akan meningkatkan hasil belajar siswa.
            Seperti permasalahan yang ada di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Darussalam Barandasi masih banyak peserta didik yang membutuhkan perhatian khusus, bimbingan yang lebih dari guru yang bersangkutan, dengan pelaksanaan Lesson Study ini peserta didik diharapkan lebih memiliki motivasi belajar, kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran di kelas.
B.                 TUJUAN
Adapun tujuan dari pelaksanaan Lesson Study di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Darussalam Barandasi yaitu:
1.      Bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan belajar dari guru-guru lain, dan membentuk kolegalitas dengan cara berkolaborasi bersama untuk meningkatkan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran.


2.      Bagi siswa Lesson Study menjadikan siswa yang dulunya tidak aktif dalam belajar setelah pelaksanaan Lesson Study  menjadi aktif dan kreatif karena guru model lebih mampu memantau seluruh siswa baik dalam kegiatan individu maupun kelompok.



BAB II
PELAKSANAAN

A.    Deskripsi Tempat dan Waktu

Lesson Study dilaksanakan di MTs.Unggulan Darussalam Barandasi tepatnya di Jalan Masjid Raya No.05 Barandasi, Kelurahan Maccini Baji, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.
Waktu yang diguanakan pada pelaksanaan Lesson Study yaitu mulai dari perencanaan (Plan) pada tanggal 27 s/d 28 Desember 2011, digunakan untuk membuat persiapan-persiapan dalam Lesson Study baik perangkat pembelajaran, nomor punggung, media pembelajaran, Lembar Kerja Siswa dan lainnya yang berhubungan dengan persiapan Lesson Study, selanjutnya tanggal 29 Desember 2011 yaitu pelaksanaan Lesson Study (DO) pukul 08.50 – 10.10 wita di kelas VIIIA. Tanggal 29 Nopember 2011 pukul 10.10 – 15.00 wita yaitu refleksi tentang pelaksanaan Lesson Study (See), serta pembuatan laporan.

B.     Plan – Do – See
1)      Plan dilaksanakan selama dua hari untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan dilakukan dalam  Lesson Study, yaitu membuat perangkat pembelajaran dalam hal ini Silabus dan RPP, Media Pembelajaran, Lembar Kerja Siswa, Lembar Observasi guna kelancaran open clas pada saat pelaksanaan Lesson Study.
2)      Do dilaksanakan selama satu hari pada tanggal 29 Desember 2011,tepat pada jam 08.30 – 10.10 wita, Do terlaksana di kelas dengan baik dan yang menjadi objek Lesson Study adalah siswa kelas VIIIA yang berjumlah 25 orang terdiri dari 5 kelompok dan dihadiri oleh 11 orang observer.
Pada pelaksanaan Open Clas yang disepakati menjadi guru model adalah Indra, S.Pd. pelaksanaan do ini terlihat bahwa guru model awal masuk melaksanakan pembelajaran dengan baik, akan tetapi masih banyak yang mesti diperbaiaki dalam pelaksanaan open class. Ini terlihat pada kegiatan awal guru model tidak menyuruh siswa berdoa padahal di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tersurat bahwa siswa memberikan salam dan berdoa, guru model juga tidak memberikan penjelasan secara terperinci



tentang tujuan pembelajaran. Lembar kerja siswa yang diberikan tidak jelas walaupun demikian guru model pada saat diskusi kelompok terlihat dia membimbing siswa berdiskusi, berinteraksi antara siswa dengan siswa, berinteraksi antara guru model dan siswa, sehingga diakhir pembelajaran guru model memberikan reward pada siswa yang tugas kelompoknya benar semua pada Lembar Kerja Siswa.
3)      See dilaksanakan setelah pelaksanaan Do pada tanggal 29 Nopember 2011, pukul 10.10 – 15.00, See ini dilaksanakan di Gedung Laboratorium IPA yang dihadiri oleh 2 orang guru model serta 2 orang pakar dari Balai Diklat, dan para observer. See dilaksanakan untuk mendiskusikan kembali kekurangan dan kelebihan guru model, para siswa dalam pelaksanaan Lesson Study sesuai tanggapan dan pertanyaan para observer guna meningkatkan kemajuan belajar mengajar. Pada pelaksanaa see (Refleksi) guru model diberikan kesempatan pertama untuk mengemukakan tentang kesan bagaimana mengajar di depan observer. Kemudian observer memberikan masukan dan saran kepada guru model, dan pakar juga memberikan saran kepada guru model setelah melihat pada pelaksanaan open class.



BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Lesson study merupakan kajian pembelajaran secara berkolega dengan prinsip mutual learning untuk mewujudkan kompetensi pada masyarakat pembelajar. Pada pelaksanaan lesson study yang dimulai dari Plan hingga see, dapat ditarik kesimpulan bahwa lesson study sangat efektif untuk digunakan dalam proses pembelajaran sepanjang tidak mengganggu mata pelajaran yang lain atau jadwal pembelajarana karena lesson study dapat meningkatkan keprofesionalisme guru, dan dapat membantu siswa dalam peningkatan kompetensinya sebagai peserta didik ini terlihat pada pelaksanaan do bahwa peserta didik sangat antusias dalam pelaksanaan do tersebut.

B.        Saran
1.      Lesson Study ini diharapkan peningkatan mutu dan kwalitas setiap guru dalam proses belajar mengajar di MTs. Unggulan Darussalam Barandasi
2.      Lesson Study dapat memberikan pengalaman baru dan wawasan bagi setiap guru di MTs. Darussalam Barandasi demi menciptakan pembelajaran yang maksimal dan mecetak guru yang profesional untuk masa kini dan masa yang akan datang.
3.      Peserta didik diharapkan berkwalitas baik dilingkungan Madrasah maupun di lingkungan masyarakat.
4.      Dengan  Lesson study Kepala Madrasah diharapkan menfasilitasi guru-guru yang akan melaksanakan Lesson Study berikutnya (berkesinambungan).

Selasa, 10 Januari 2012

ANALISIS CITRAAN PADA PUISI TITIPAN LANGIT KARYA MARDIANTO


A.    Pendahuluan
Sastra merupakan ciptaan manusia yang memiliki ciri yang khas karena penyair berhak ingin menjadi apa saja dalam karyanya. Sastra merupakan kegiatan kreatif yang dihasilkan oleh seorang seniman dalam bentuk karya yang fundamental, baik itu dalam bentuk prosa, drama dan puisi sehingga penikmat atau pengapresiasi mampu membedakan jenis dan karekteristrik karya itu sendiri.
Tjahjono (2008:1), menyatakan bahwa teks sastra hendaknya dilihat sebagai entitas yang hidup, bukan barang mati. Teks sastra itu sebenarnya sebuah organisme yang hidup bukan sekadar onggokan unsur-unsur bisu dan mati.
Salah satu jenis karya sastra adalah puisi . Puisi merupakan ungkapan perasaan yang dituangkan dalam bentuk bahasa yang padat. Penyair memberikan imajinasi atau pencitraan yang khas sesuai dengan kehendaknya.
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya yaitu bagaimanakah citraan pada puisi titipan langit?
Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui citraan puisi dari titipan langit. Manfaatnya agar dapat mengetahui citraan puisi dari titipan langit dan sebagai bahan referensi kepada semua penikmat sastra.

B.     Pembahasan
1.      Pengertian Puisi
Emerson dalam Syahruddin (2009:2) memberikan penjelasan bahwa puisi merupakan upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa sesuatu, untuk menggerakkan tubuh yang kasar dan mencari kehidupan dan alasan yang menyebabkan ada.
Pradopo (2003:3) menyatakan bahwa puisi merupakan sebuah hasil karya sastra seni yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuisian. Puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna. Sedangkan Waluyo (dalam Dzar Al Banna, 2010: 1) menyatakan bahwa Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang  padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif)
2.   Citraan Puisi
Ernest Nugroho (gubukbahasasastra.blogspot.com) menyatakan bahwa citraan puisi adalah penggambaran mengenai objek berupa kata, frase, atau kalimat yang tertuang di dalam puisi atau prosa. Citraan dimaksudkan agar pembaca dapat memperoleh gambaran konkret tentang hal-hal yang ingin disampaikan oleh pengarang atau penyair
Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran, atau gambaran angan si penyair. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indera penglihatan). Citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran. Adapun Jenis/macam citraan (imaji) yaitu:

a.    Citraan penglihatan (visual imegery)
Citraan penglihatan adalah citraan yang ditimbulkan oleh indera penglihatan (mata). Citraan ini paling sering digunakan oleh penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indera penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat. Seperti Mataku terpanah mamandang cakrawala.

b.    Citraan pendengaran (auditory imagery)
Citraan pendengaran adalah citraan yang dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga). Contohnya camar bernyanyi, Suara gemuruh dalam kelam

c.    Citraan perabaan (tactile imagery)
Citraan perabaan adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indera peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang dapat dirasakan kulit, misalnya dingin, panas, lembut, kasar, dan sebagainya.

d.    Citraan penciuman (olfactory)
Citraan penciuman adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Citraan ini tampak saat kita membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium sesuatu.

e.    Citraan pencecapan (gustatory)
Citraan pencecapan adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera pengecap. Pembaca seolah-olah mencicipi sesuatu yang menimbulkan rasa tertentu, pahit, manis, asin, pedas, enak, nikmat, dan lain-lain

f.     Citraan gerak, yaitu citraan yang secara konkret tidak bergerak, tetapi secara abstrak objek tersebut bergerak.

g.     Citraan perasaan, yaitu citraan yang melibatkan hati (perasaan). Citraan ini membantu kita dalam menghayati suatu objek atau kejadian yang melibatkan perasaan.

3.      Titipan Langit

Dalam sajak ini
Sepi Menyeret
Heningpun menderu di pucuk keluh

Bersama sajak ini
Kutitip senyum pada murid-muridku
Karena sebelum senja tiba
Kuyakin engkau kejora,…..bulan,…. Bahkan matahari
Bergegeslah menghafal abjad, aksara dan lontara
Sekalipun
Sebelum berbicara pada rumput kering

Sungguh masih terlalu pagi
Untuk mengejar mimpi, meski raga terseret
Pada rimba, telaga tak berdasar
    ‘Yang kerap datang menari di tepi sadarmu’

4.   Citraan Dalam Puisi Titipan Langit
Citraan yang telah dianalisis dalam puisi titipan langit  yaitu citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan.
a.    Citraan penglihatan (visual imegery)
Citraan ini dapat dilihat pada kalimat Kutitip senyum pada murid-muridku dan pada kalimat  Pada rimba, telaga tak berdasar Seorang penyair menginginkan bahwa apa yang ia rasakan juga dirasakan oleh pembaca mengenai pendidikan.
b.   Citraan pendengaran (auditory imagery)
Citraan pendengaran yang terdapat pada puisi titipan langit karya Mardianto ini dapat dilihat pada bait pertama baris kedua.

Dalam sajak ini
Sepi Menyeret
Heningpun menderu di pucuk keluh

Kata sepi dan heningpun memberikan pemaknaan yang deskripsi yaitu ia tak mendengar suara-suara apapun. Dalam kalimat sepi menyeret dan heningpun menderu di pucuk keluh Mardianto mengajak kita memahaminya bahwa kesepian terhadap dirinya.
c.    Citraan perabaan (tactile imagery)
Pada bait Ketiga baris  kedua yaitu Untuk mengejar mimpi, meski raga terseret ingin memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa apapun yang terjadi seseoarng tetap berjuang untuk melanjutkan apa yang diimpikan, kata raga terseret, seorang Mardianto berharap apapun terjadi impian kita tetap harus terwujud.
d.   Citraan penciuman (olfactory)
Citraan penciuman adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Pada puisi titian langit tidak ditemukan citraan pemciuman.

e.    Citraan pencecapan (gustatory)
Citraan penciuman adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Pada puisi titian langit tidak ditemukan citraan pemciuman.

f.     Citraan gerak
Pada puisi titipan langit, untuk citraan gerak dapat dilihat pada kalimat Bergegeslah menghafal abjad, aksara dan lontara dan pada kalimat Yang kerap datang menari di tepi sadarmu.

g.    Citraan perasaan, yaitu citraan yang melibatkan hati (perasaan).
Citraan ini pada puisi titipan langit dapat dibaca pada Kuyakin engkau kejora,…..bulan,…. Bahkan matahari


C.    Kesimpulan
Pada puisi titipan langit karya Mardianto setelah dianalisi bahwa memiliki citraan Citraan penglihatan (visual imegery) dilihat dari kalimat Kutitip senyum pada murid-muridku dan Pada rimba, telaga tak berdasar, Citraan pendengaran (auditory imagery) dapat dibaca pada teks Sepi Menyeret dan Heningpun menderu di pucuk keluh, Citraan perabaan (tactile imagery) dapat dibaca pada kalimat Untuk mengejar mimpi, meski raga terseret, Citraan gerak dapat dibaca pada kalimat Bergegeslah menghafal abjad, aksara dan lontara dan pada kalimat yang kerap datang menari di tepi sadarmu, Citraan perasaan dapat dibaca pada kalimat Kuyakin engkau kejora,…..bulan,…. Bahkan matahari sedangkan pada Citraan penciuman (olfactory) dan Citraan pencecapan (gustatory) tidak ditemukan dalam puisi titipan langit

D.    Daftar Pustaka

Al Banna, Dzar. 2010. Analisis Puisi "dengan puisi, Aku" Karya Taufiq Ismail http://dzaralbannasastra.blogspot.com/2010/ dikutip on line pada tanggal 9 januari 2012.

Nugroho, Ernest. 2009. Goedang Bahasa Dan Sastra gubukbahasasastra.blogspot.com, dikutip online pada tanggal 9 Januari 2012.

 Himabas, STKIP YAPIM Maros, Ttipan Langit Antologi Puisi. Jakarta Pusat: PT. Pustaka Indonesia Press Jakarta.
Pradopo, Rahmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Tjahjono,    Tengsoe. 2008. Menciptakan Ruang Apresiasi Puisi, www.kotapuisi,co.id, dikutip on line pada tanggal 2 januari 2012.
 Syahruuddin. 2009. Apresiasi Puisi.  Makassar: CV. Permata Ilmu.