Gerak langkahmu
ada asa dibenak
Esok kau membenah
ilmu dan rindu, terpatri
Malam ini ditaburi gemintang
Kau tinggikan cita
Esok gemintang kau raih
jangan....
jangan....kau enyahkan almamtermu
Esok kakimu kau langkahkan
Kembali dan harumkan almamtermu
Sastra merupakan ciptaan manusia yang memiliki ciri yang khas karena penyair berhak ingin menjadi apa saja dalam karyanya. Sastra merupakan kegiatan kreatif yang dihasilkan oleh seorang seniman dalam bentuk karya yang fundamental, baik itu dalam bentuk prosa, drama dan puisi sehingga penikmat atau pengapresiasi mampu membedakan jenis dan karekteristrik karya itu sendiri.
Tjahjono (2008:1), menyatakan bahwa teks sastra hendaknya dilihat sebagai entitas yang hidup, bukan barang mati. Teks sastra itu sebenarnya sebuah organisme yang hidup bukan sekadar onggokan unsur-unsur bisu dan mati.
Salah satu jenis karya sastra adalah puisi . Puisi merupakan ungkapan perasaan yang dituangkan dalam bentuk bahasa yang padat. Penyair memberikan imajinasi atau pencitraan yang khas sesuai dengan kehendaknya.
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya yaitu bagaimanakah citraan pada puisi titipan langit?
Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui citraan puisi dari titipan langit. Manfaatnya agar dapat mengetahui citraan puisi dari titipan langit dan sebagai bahan referensi kepada semua penikmat sastra.
B.Pembahasan
1.Pengertian Puisi
Emerson dalam Syahruddin (2009:2) memberikan penjelasan bahwa puisi merupakan upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa sesuatu, untuk menggerakkan tubuh yang kasar dan mencari kehidupan dan alasan yang menyebabkan ada.
Pradopo (2003:3) menyatakan bahwa puisi merupakan sebuah hasil karya sastra seni yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuisian. Puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna. Sedangkan Waluyo (dalam Dzar Al Banna, 2010: 1) menyatakan bahwaPuisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif)
2.Citraan Puisi
Ernest Nugroho (gubukbahasasastra.blogspot.com) menyatakan bahwa citraan puisi adalah penggambaran mengenai objek berupa kata, frase, atau kalimat yang tertuang di dalam puisi atau prosa. Citraan dimaksudkan agar pembaca dapat memperoleh gambaran konkret tentang hal-hal yang ingin disampaikan oleh pengarang atau penyair
Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran, atau gambaran angan si penyair. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indera penglihatan). Citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran. Adapun Jenis/macam citraan (imaji) yaitu:
a.Citraan penglihatan (visual imegery)
Citraan penglihatan adalah citraan yang ditimbulkan oleh indera penglihatan (mata). Citraan ini paling sering digunakan oleh penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indera penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat. Seperti Mataku terpanah mamandang cakrawala.
b.Citraan pendengaran (auditory imagery)
Citraan pendengaran adalah citraan yang dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga). Contohnya camar bernyanyi, Suara gemuruh dalam kelam
c.Citraan perabaan (tactile imagery)
Citraan perabaan adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indera peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang dapat dirasakan kulit, misalnya dingin, panas, lembut, kasar, dan sebagainya.
d.Citraan penciuman (olfactory)
Citraan penciuman adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Citraan ini tampak saat kita membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium sesuatu.
e.Citraan pencecapan (gustatory)
Citraan pencecapan adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera pengecap. Pembaca seolah-olah mencicipi sesuatu yang menimbulkan rasa tertentu, pahit, manis, asin, pedas, enak, nikmat, dan lain-lain
f.Citraan gerak, yaitu citraan yang secara konkret tidak bergerak, tetapi secara abstrak objek tersebut bergerak.
g.Citraan perasaan, yaitu citraan yang melibatkan hati (perasaan). Citraan ini membantu kita dalam menghayati suatu objek atau kejadian yang melibatkan perasaan.
3.Titipan Langit
Dalam sajak ini
Sepi Menyeret
Heningpun menderu di pucuk keluh
Bersama sajak ini
Kutitip senyum pada murid-muridku
Karena sebelum senja tiba
Kuyakin engkau kejora,…..bulan,…. Bahkan matahari
Bergegeslah menghafal abjad, aksara dan lontara
Sekalipun
Sebelum berbicara pada rumput kering
Sungguh masih terlalu pagi
Untuk mengejar mimpi, meski raga terseret
Pada rimba, telaga tak berdasar
‘Yang kerap datang menari di tepi sadarmu’
4.Citraan Dalam Puisi Titipan Langit
Citraan yang telah dianalisis dalam puisi titipan langit yaitu citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan.
a.Citraan penglihatan (visual imegery)
Citraan ini dapat dilihat pada kalimat Kutitip senyum pada murid-muridku dan pada kalimatPada rimba, telaga tak berdasar Seorang penyair menginginkan bahwa apa yang ia rasakan juga dirasakan oleh pembaca mengenai pendidikan.
b.Citraan pendengaran (auditory imagery)
Citraan pendengaran yang terdapat pada puisi titipan langit karya Mardianto ini dapat dilihat pada bait pertama baris kedua.
Dalam sajak ini
Sepi Menyeret
Heningpun menderu di pucuk keluh
Kata sepi dan heningpun memberikan pemaknaan yang deskripsi yaitu ia tak mendengar suara-suara apapun. Dalam kalimat sepi menyeret dan heningpun menderu di pucuk keluh Mardianto mengajak kita memahaminya bahwa kesepian terhadap dirinya.
c.Citraan perabaan (tactile imagery)
Pada bait Ketiga baris kedua yaitu Untuk mengejar mimpi, meski raga terseret ingin memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa apapun yang terjadi seseoarng tetap berjuang untuk melanjutkan apa yang diimpikan, kata raga terseret, seorang Mardianto berharap apapun terjadi impian kita tetap harus terwujud.
d.Citraan penciuman (olfactory)
Citraan penciuman adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Pada puisi titian langit tidak ditemukan citraan pemciuman.
e.Citraan pencecapan (gustatory)
Citraan penciuman adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Pada puisi titian langit tidak ditemukan citraan pemciuman.
f.Citraan gerak
Pada puisi titipan langit, untuk citraan gerak dapat dilihat pada kalimat Bergegeslah menghafal abjad, aksara dan lontara dan pada kalimat Yang kerap datang menari di tepi sadarmu.
g.Citraan perasaan, yaitu citraan yang melibatkan hati (perasaan).
Citraan ini pada puisi titipan langit dapat dibaca pada Kuyakin engkau kejora,…..bulan,…. Bahkan matahari
C.Kesimpulan
Pada puisi titipan langit karya Mardianto setelah dianalisi bahwa memiliki citraan Citraan penglihatan (visual imegery) dilihat dari kalimatKutitip senyum pada murid-muridku dan Pada rimba, telaga tak berdasar, Citraan pendengaran (auditory imagery) dapat dibacapada teksSepi Menyeret dan Heningpun menderu di pucuk keluh, Citraan perabaan (tactile imagery) dapat dibaca pada kalimat Untuk mengejar mimpi, meski raga terseret, Citraan gerakdapat dibaca pada kalimat Bergegeslah menghafal abjad, aksara dan lontara dan pada kalimat yang kerap datang menaridi tepi sadarmu, Citraan perasaan dapat dibaca pada kalimat Kuyakin engkau kejora,…..bulan,…. Bahkan matahari sedangkan pada Citraan penciuman (olfactory) dan Citraan pencecapan (gustatory) tidak ditemukan dalam puisi titipan langit
Tengah kerinduan yang secara sadar membuatku harus berkelana dan berkecimpung dalam resah. Siang, malam, pagi dan sore terus bayangan itu menjelma di sudut-sudut kamar, sudut-sudut ruang kota dan di perempatan batin yang terkoyak-koyakkan, rasa yang tak dapat dibendung sebab rasa telah menjadi gamang, percaya tak lagi percaya, sebab kadar percaya itu pun telah surut dengan kadarnya. Emas tak mungkin menjadi berlian, perak tak mungkin menjadi intan, apalagi almunium mustahil menjadi permata yang balutannya adalah emas. Terkadang malam dengan sambutan ringtone poliponik melantun batin yang menangis, akibat cambukan, irisan, dan akibat melodi dari kalimat-kalimat dan kata-kata dusta yang terpaksa menjadi hukuman, konstitusi dari hakim yang tak adil.
Awal pemberangkatan ke kota asing hanya menjadi wacana belaka, pesawat yang lepas landas meninggalkan diriku tepat jam 09.00, sebab proses berpikir kataku yang membuatku terlambat, mungkin belum saatnya sebab kalimat dari perempuan yang harus dianalisis secara dalam-dalam. Ketidaktegaan juga membuatku mesti berada pada bumi yang tak lagi perawan ini, karena amanah dari seorang bapak terhadap anak perempuannya ada pada pundakku. Amanah ini yang membuatku bertahan sejenak tanpa berpikir harus menderita dengan kejadian ini.
“Nak…. Kutitip anak perawanku padamu, sebab tak ada sanak family di sana, di pundakmu ku titip ia di tanganmu, Kami sekeluarga berharap banyak dari kamu. Sebab ia berada di rantau orang”. Katanya dengan isak tangis yang ada pada matanya.
“Nak, iya gadisku yang keempat, sebenarnya kami tak ingin melepaskannya, kami ingin ia berada di kampungnya, mengikuti kakaknya sebagai pendidik, yang memiliki pendidikan tinggi seperti kakaknya”.
“Pak…., Bu… Insya Allah amanah yang Jbu berikan kepadaku akan kuimplementasikan dan kurealitaskan dalam bingkai tanggung jawab”.
Lentera menjadi titik pandangan yang terakhir. Bapak dan ibu itu menyarankan agar beristirahat sebab esok masih panjang perjalanan yang akan dilalui, kemudian mereka berlalu dan masuk ke kamar, kemudian aku menyusul ke kamar tamu yang telah menjadi tempat peristirahatan antara Aku dan Ram.
Ram… Entah kenapa, aku menjadi bagian dari keluarga ini, ayah Luna telah ku anggap sebagai bapakku sendiri, ibunya pun sama, terasa aku bagian dari rumah ini. Ram… keluarga ini baik buat kita, suatu saat nanti kiranya ketika kita sampai ke Maros, Aku akan menjadikannya pelabuhan terakhir, menjadikan perempuan yang memberikan kehangatan kepadaku.
“Iya…., Akupun merasa demikian, mereka baik, kita banyak memikul hutang budi di keluarga ini”.
Denting jam berbunyi, tepat pukul 1 dini hari, bantal guling, dan kasur serta serbek, dan selimut sejak dari tadi menatapku dengan gusar, kubaringkan tubuhku dan menatap langit-langit kamar, kembali terdengar di gendang telingaku kalimat dari orang tua Luna, bahwa Aku mesti menjaga dan bertanggung jawab atas semuanya tentang Luna. Iya… jawabku.
Imajinatif itu memberikan penegasaan yang dalam bahwa ia adalah perempuan yang menjadi kekasihku, dan kuhajatkan menjadi pendampingku. Bu .. Pak… restui kami dengan hubungan ini, semoga Allah memberikan pula restu kepada kami sehingga menjadi keluarga sakina yang mawaddah wa rahma.
Perjalanan Sinjai ke Maros, dalam ruang hatiku bertanya-tanya, apakah aku sanggup…. sanggup memikul tanggung jawab ini, Iya…. Rabb… Engkau Maha Tahu… Engkau Maha Adil dan Maha Penyayang, hamba-Mu yang hina ini meminta kepada-Mu agar beban dipundak ini dapat teratasi dengan mudah. Tanpa hambatan dan konflik yang mengakibatkan konfrontasi.
Jarak kota Maros dan Sinjai, membuat pikiranku melayang dan berpikir tentang tanggung jawab tersebut, tiba diperbatasan antara Bone-Maros, sopir meminggirkan mobilnya untuk sholat jum’at. Air wudhu yang membasuhku perlahan-lahan meninggalkan keringat yang penuh dosa. Disujud akhirku Aku meminta kepada pemilik bumi ini, agar perempuan yang kujadikan pendampingku setia menemaniku sampai seumur hidupku. Iya,… Maha Rahman… lahualata’illah billah. Yah.. Maha Rahman jadikan ia sebagi istriku yang taat ibadah, jadikan ia sebagai istri yang soleha dan jadikan ia sebagai istrtiku yang mengikuti kata suaminya, dan bukakanlah pintu hatinya bahwa perkataan seorang laki-laki yang mesti diikuti.
Setelah sholat Jum’at, kulangkahkan kaki ke arah mobil, dan melanjutkan perjalanan, petak sawah yang artistik dengan gambaran gunung yang istemewa, dengan iringan musik ugi. Gumamku dalam hati Luna, andai kau tahu bahwa ini pertama kalinya aku menginap dirumahnya kekasihku, dan pertama kalinya diberikan amanah oleh seorang ayah dan ibu dari perempuan. Luna… Ingin rasanya kubangun istana di tengah kebun itu, di mana anak-anak kita bermain-main di bawah dego-dego dan kita memetik cengkeh, sambil sebutan ayah … kau memanggilku untuk membantumu memindahkan tangga. Keinginan ini hanyalah sebuah hayalan yang istemewa, harapku ini menjadi realitas. Seperti itulah ilusi yang kumainkan dengan tanpa sadar mesti jatuh, jatuh dalam kelam yang tak pantas dengan sebutan.
Bengo, Kiri kataku, motor yang 2 hari kutinggalkan telah setia menemaniku untuk ku bawa pulang, sejak berangkat dari Sinjai 2 hari ia motor itu menjadi kusut. Ram… Engkau yang memakainya kataku, nanti sampai di rumahmu aku mengemudinya.
* * * *
Pada penanggalan 23 Agustus 2009, kabar dan warkat menjadi urgensial ketika kuberi kabar sanak familiku di Sinjai dan perempuanku, bahwa ujian akhir telah selesai. Saatnya untuk libur, mungkin liburan ini akan kembali ke kampung perempuan itu karena kerinduanku menjadikan hidup lebih bermakna, setelah sholat Magrib kutunaikan dan sarapan malam, ku lajukan motor ke arah selatan di Terminal kota, disana ada perempuan tinggi, ayu, yang sejak dari tadi menunggu untuk bercanda tawaku, sapaku pada bintang sambil kretek kuisap diperjalanan.
Ku parkirkan motor, tepat di dekat lampu merah itu, Aku cukup menawarkannya untuk jalan-jalan, tapi bibirnya kaku untuk menjawab dan hingga akhirnya tak ada jawaban yang ada dibibirnya. Hingga ku lajukan motorku ke arah barat dengan membeli bensin, sepulang itu ketemukan ia telah naik di motor dengan kemesraan yang nampak di wajahnya.
Laju motor yang tak kencang berubah menjadi laju yang tak pernah lagi ku jalankan sejak paska jatuhnya Aku di arena balap tahun lalu yang membuat kaki patah dan tangan juga patah yang mesti dirawat setengah tahun waktu itu, tapi karena kebencian dan janji yang tak dapat diikuti membuatku harus berbuat itu, karena wajahku telah suram untuk sebuah kenangan yang dihianati.
Aku, menenangkan batinku yang telah menjadi ah….? Entahlah seperti apa, yang ada hanya benci, kacau, dan gusar serta resah ingin rasanya memaki dan mencaci, tapi bukan itu kataku… biarkan ia menjadi milik orang lain.
Malam ini kuhapus suka dan hayalanku tentang keindahan rumah panggung dan di dego-dego anak-anak kita bermain, malam ini harapan menjadi seorang kasih dan seorang Ayah telah punah dengan pilihanmu. di tanganmu ada pilihan. Pilihan untuk meninggalkanku adalah pilihanmu. biarkan nostalgia kita endingnya sampain disini.
Dua bulan di ibu kota Negara ini, dengan berbekal sedikit talenta dan demi menghidupi kami berdua nyaris tiap hari berada di metro mini atau resto kami berdua mengamen demi bertahan hidup di kota ini.
“Ndi, apa kamu menyesal ikut denganku” pernyataan ini terlontar dari mulut…… setelah menerima uang receh dari konsumen resto di pinggir jalan cempaka raya.
“Daeng, sekali layar terkembang pinisi pantang berbelok arah walau badai di hadapan mata, sekali berkomitmen untuk menjalani hidup maka pantang untuk undur sebelum mencapai puncak”
Ku yakinkan ia karena cinta yang kami tanggung dan amanah dari cinta itu yang telah terpatri, walau aku tahu bahwa tubuh ku telah berlumur dosa, aku hanya dapat berharap bahwa kedua orang tuaku dapat memaklumi mengapa aku memilih jalan ini.
Dua bulan menjalani kehidupan tanpa mengenal lelah walau terombang-ambing, tetap pada suatu sikap yang membuatku harus bertarung hidup bersamanya. Ya..Rabb ampuni dosa hambamu ini.
Malam berganti di pelataran parkiran ancol kami menjalankan rutinitas sebagai pengamen, demi menggapai seribu demi seribu untuk mengumpulkan anggaran dan demi sesuap nasi demi bertahan. Walau aku sudah melamar pekerjaan dengan berbekal ijazah yang ku bawa empat bulan yang lalu terbit dari perguruan tinggi tetap tidak ampuh untuk bersaing mendapatkan pekerjaan.
Sebuah lagu dari iwan Fals ku dendangkan kali ini untuk memuaskan pelanggan yang lagi menyatap hidangan di warteg, ada yang lagi asyik ngobrol sambil menikmati kopi.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu, mohon maaf kepada semua pelanggan warteg, kami menyita waktunya sejenak untuk melepaskan penat dan beban pikiran dari saudara-saudara, lagu ini kami persembahkan untuk kawan-kawan semua. …..mulai memetik gitar akustik dan aku mendendangkan dengan hikmat.
“Berjalan seorang pria muda……… dengan jaket lusu dipundaknya…….. Di sela bibir tampak mongering…”
Lagu ini ku tuntaskan sampai habis karena aku melihat pelanggan rseto menikmati lagu dari bang iwan Fals. Setelah itu lagu kedua yaitu Guru Omear Bakri juga ku dendangkan.
Terima kasih kepada kawan-kawan, saudara-saudari yang mendengarkan kami sejenak. Kemudian aku mengambil pembungkus gula-gula untuk mengumpulkan seribu demi seribu dari pelanggan warteg.
“Kayaknya kota ini tak cocok untuk kita, saya pikir mungkin kita harus bergeser ke kota yang mungkin bisa membuat kita hidup lebih baik.
“Iya, pikirku
Bola raksasa di ufuk barat telah menyala menghantam laut dan berbaur memerahkan laut yang tadinya biru. Kami beranjak pulang dan berkemas dan sekaligus meminta pamit ke teman yang rumahnya digunankan untuk berteduh dari sinar matahari dan hujan
Pagi suara bising kendaraan sudah beraktiftas, metro mini mengantar kami ke satsiun gambir menuju kota jogya. Kereta ekonomi beranjak pagi walau berdesak-berdesakan tetap kami sepakat untuk tetap menjaga keutuhan romatisme kami.
Pukul 17.00 tiba di stasiun yogya, kami turun dan memulai berpikir ke mana arah kaki melangkah maka disitulah kami berteduh. Rencana awal mencari tempat kost untuk berteduh dengan berbekal dana dari hasil ngamen kami berharap dapat bertahan di kota ini.
“Bu, di dekat sini ada tempat kost? Kataku pada salah seorang penduduk yogya
“oh iya, ada dik, di ujung lorong sana ada tempat kost, silahkan tanya di sana. Sambil menujuk lorong tersebut.
“iyaa makasih mbak, kataku”
Kami menyusuri jalan tersebut, dengan beban ransel dan gitar yang kami bawa menuju tempat sewa tersebut.
“Bu, maaf kami mau mencari tempat kost, apa disekitar sini ada?
“Oh iya kebetulan dik saya menerima orang yang mau ngekos, silahkan masuk”
“Kamar 2x2 sebagai saksi kali ini semoga aku tak tergilas dengan waktu, dan malah memanfaatkan waktu, ndi… kamar ini apa cukup luas untuk kita berdua?
“walaupun dikolom jembatan aku tetap akan ikut denganmu, karena itu sudah menjadi budaya dan komitmen ku”
“Tapi, seacara agama belum mengijinkan kita untuk tidur berdua, karena kita belum resmi menjadi suami-istri”
“lalu, kamu mau tidur dimana, sementara luas kamar ini hanya 2x2 saja, 1 bed dan dapur?
“ehm..istirahatlah dulu, entar kita pikir”
Pakaian ku masukkan ke dalam lemari, dan kami ke luar mencari makan karena perut sudah lapar.
“Daeng, apa sudah ada jalan ke luarnya?
“kita cari warteg dulu, entar kita bahas, itu sana wartegnya”
Sambil makan kami berdua berpikir apa yang akan dilaksanakan di kota ini, karena kota ini asing bagi kamu berdua, tak ada yang kami kenal.
“Daengm, bagaimana apa sudah ada solusi? Pertanyaan ini lagi-lagi kulontarkan”
“ehm.. entar malam kita ke masjid setelah itu meminta iman untuk menikahkan kita”
Jawaban itu menggetarkan antara percaya atau tidak kalimat ini terlontar, aku gugup dihadapannya baru kali ini aku seperti ini, percampuran dua unsur yang merasuki tubuhku dan mengalir dalam darahku memali vena, ah bukan mungkin arteri… karena kalimat itu langsung menembus jantungku. Aku hanya dapat mengangguk untuk menyatakan secara semiotic untuk kata sepakat.
“Sebentar lagi gelap, suara adzan telah didiperdengarkan, sekarang kita menuju masjid dan sholat magrib dulu, lalu setelah itu kita bertemu dengan pak iman”
Kami berdua ke masjid terdekat dari kost, setelah menunaikan kewajiban kami selaku muslim kami berdua bertemu dengan pak iman.
“Assalamu alaikum ustas”
“Waalaikum Salam mas”
“Ada apa, apa ada yang dapat saya bantu”
“Ini ustas, kami berdua ini baru saja tiba dari Jakarta, kami ini bingung karena kami bukan suami istri tapi kami sewa tempat kost Cuma satu guna mengirit dana yang kami punya, tapi yang menjadi kendala kami menginginkan hubungan kami ini sah agar tak terjadi fitnah di sekitar kami”
“oh gitu, ehm duduklah, aku panggil saksi dan pak RT, agar pernikahan kalian menjadi sah sesuai dengan syariat, saya akan jadi wali dari perempuan dan warga yang ada disini dan Pak RT akan jadi saksi untuk pernikahan kalian”
“Iya, ustas, saya mengucapkan terima kasih”
“Setelah sholat isya sebentar kita akan lakukan pernikahannya”
“Oh iya, sudah saatnya sholat isya, mari kita tunaikan kewajiban kita”
Aku berjalan ke belakang di sap wanita, menuju tempat wudhu dan menunaikan sholat isya.
Setelah sholat isya aku berpikir seandainya ayah dan ibu menjadi saksi penikahan kami adalah suatu keburuntungan, ini pernikahan yang urgensial dalam hidupku dan sakral. Sajadah merah ini menjadi saksi bagi kami bahwa esok telah terbuka lembaran baru khidupan kami, tapi ayah dan ibu? Apa aku harus mengabarinya? Mungkin ia marah kepadaku? Ya..Allah ampunilah segala dosa kami, aku tak mampu menahan air mata yang telah tumpah karena sebentar adalah prosesi pernikahan kami, pernikahan yang tak mendapat restu dari orang tua, semoga ke dua orang tuaku mengampuni dosa kami.
Aku menghapus air mata itu, dan berjalan menuju ke dekat …. Untuk mengucap ijab qabul.
Suratku waktu itu
Kau telusuri kata per kata
kau maknai dan hiasi kerinduan
dari musim hujan yang tak henti
dari rintik .....
rintik....
surat jingga itu
di atas aksara
dan di bulan desember
Terik matahari tadi siang membuat keringat menetes, lewat senyummu kamu menawarkan untuk menyatakan kalimat biarkan aku menyapunya dengan sebuah sapu tangan berwarna putih dengan ditengahnya ada gambar kartun, cukup kau tersenyum manis. Siang itu kau cantik, manis dan aroma surgawi seakan kuhirup bersamaan dengan kau mengucapkan kalimat bahwa aku menyimpan kalimar untukmu yaitu kalbuku ingin kau sebagai penndampingku sampai ke surga.
Fiqriah seperti itulah aku memanggilmu dengan rasa sayangku kepadamu, sejak perkenalan kita waktu itu pada jejaring sosial, seakan kau menjawab segala keresahanku tentang perempuan selama ini, beberapa perempuan yang telah berlabuh jauh, adapula yang men-cut-nya, ada pula yang menyuruhku untuk berbagi bukan dengannya. sekulumit kisah yang endingnya tak asyik dibahas, sebab derai air mata akan membasahi pipi. tetapi itulah masa lalu dunia remajaku yg kadang aku pun membiarkannya tertutup oleh lembar lain dalam buku diariku.
Fiqriah..kekasihku....sejak itu pula kau mengisi kalbuku, bahagia rasanya fiq...sungguh.... kau menjadi rusuk yang telah hilang dan kau menjadi pelengkap...namun entah ada apa denganku seakan aku tak bisa mengungkapkan kalimat bahwa aku terlalu sayang padamu kala itu, jika aku mengenang kembali awal kau menyatakan rasa sayangmu juga dan kita sepakat menjadi sepasang sejoli yg kisahnya sama dengan Ali anak dari nabi Muhammad dan Aisyah.
"Ndi....telah kusematkan rinduku padamu"
"Daeng, telah kututup rapat-rapat rindumu untukku dan rinduku untukmu"